Cerita Pendek : Angsa Putih


Langkah kakinya begitu ringan melompat kesana kemari. Tubuhnya bergerak mengikuti alunan melodi. Begitu indah, begitu gemulai, begitu menghanyutkan. Kakinya yang ramping mampu menopang tubuhnya yang dewasa. Gerakannya sungguh terlatih bak penari balet profesional.
Gadis berumur 18 tahun itu selalu berlatih menari dalam gelapnya studio tari. Selalu datang paling awal dan pulang paling akhir. Gadis itu menghabiskan hidupnya hanya untuk menari. “Lira, sudah waktunya pulang”, kata penjaga studio tari Elizabet. Lira menghentikan tariannya dan menoleh ke penjaga studio,”Ah maaf aku, ehm benar aku harus pulang.” Lira berjalan mengambil tasnya dan peralatannya lalu berjalan pulang. “Good night sir”, pamit Lira.
Sesampainya dirumah Lira langsung pergi ke kamarnya merebahkan tubuhnya. Dia menghela napas berat sambil memikirkan gerakan baru yang akan dimainkannya. “Hai Lira, kamu berlatih lagi hari ini?” kata adik Lira, Simon. Anak laki-laki baru gede itu nimbrung begitu saja di kamar kakak perempuannya. “Simon, aku lelah. Jangan sekarang”, kata Lira berharap Simon kembali ke kamarnya. “Kamu seharusnya sudah tampil di panggung besar Kak. Kenapa kamu hanya latihan saja? Padahal aku sudah cerita ke teman-teman kalau kakakku akan jadi penari balet profesional nantinya”, cerita Simon. Lira pun bergidik,”Simon, kenapa kamu bercerita begitu pada teman-temanmu? Kamu tahu kakak tidak bisa. Kakak...” Lira menghentikan ucapannya dan menghela napas berat. Simon menunggu kakaknya melanjutkan ucapannya. Namun nihil, Lira tidak meneruskan ucapannya. “Oke oke baiklah. Aku tidak akan menceritakan tentang kakak lagi ke teman-temanku. Huft padahal aku bangga punya kakak sepertimu”, desah Simon sembari berjalan kembali ke kamarnya. Lira pun hanya bisa bergulung dalam selimut dan mencoba untuk tidur.
Keesokkan paginya Lira dengan pesona cantiknya berangkat ke kampus seperti biasa. “Aku berharap hari ini menjadi hari yang baik”, gumamnya. Tiba-tiba punggungnya ditepuk dari belakang membuat Lira terperanjat kaget. “Hai Lira, what’s up?” sapa teman baiknya, Synta. Lira menyikut temannya itu,”Kau mengagetkanku Syn.” Synta tertawa,”Maaf, maaf, by the way aku ada pengumuman untukmu Lir.” Lira merespon dengan tatapan penuh tanya. “Kamu tau ajang balet tersebar sejagat raya ini?” “Tidak usah berlebihan Syn”, desis Lira. Synta tertawa dan melanjutkan,”Akan dibuka audisi besar-besaran dikota dan coba tebak audisi apa? Balet Lir, balet!” Saking semangatnya Synta berteriak hingga semua orang melihatnya bengong. “Syn pelankan suaramu. Aku tau kamu bersemangat tapi kenapa kamu memberitahuku soal ini?” tanya Lira bingung. “Oh temanku yang polos, kamu adalah penari balet dan sebentar lagi akan lulus sekolah tinggi. Bukankah bagus kalau Lira sang penari balet kita ini meneruskan karir baletnya di akademi terbesar sejagat raya?” jelas Synta lagi-lagi hiperbola. Lira hanya memutar matanya. “Baiklah akan aku urus semuanya. Jadi kamu hanya tinggal latihan dan mengikuti audisinya. Oke?” lanjut Synta. Lira pun mengangguk setuju.
Jam istirahat sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Lira menggunakan waktunya untuk ke perpustakaan mencari lagu untuk audisi nanti. Dia mencari rekaman-rekaman musik dan memainkannya di mesin pemutar musik. Dia mendengarkannya sambil membayangkan gerakan apa yang akan dipakainya. Setelah sekian rekaman musik yang dieliminasinya ada satu yang menarik perhatiannya yaitu rekaman musik tentang swan lake. “Ya aku akan memainkan ini. Meski gerakannya sedikit sulit tapi aku pasti bisa”, gumamnya pada dirinya sendiri.
Hari itu setelah kelas selesai seperti biasa Lira pergi berlatih di studio tari Elizabet. Dia berjalan masuk ke ruang latihan yang luas dikelilingi dengan cermin super besar. Dia meletakkan peralatannya di pojok ruangan dan memutar musik dari swan lake. Dia mencoba melakukan sedikit pemanasan dan dia beraksi.
Tariannya begitu gemulai meski ada beberapa gerakan yang harus dia ulang-ulang. Meskipun lelah dia tetap berlatih. Dia mengulang semua gerakan demi gerakan dan memperbaiki gerakan yang salah. Hingga lagu itu berhenti dan dia akhirnya menemukan gerakan yang sesuai dengan tema dan jati dirinya.
Dia terkejut saat mendengar suara tepuk tangan di pintu masuk ruang latihan. “Wow Lira, aku yakin kamu pasti menang dan karirmu akan bagus”, puji Synta yang dari tadi melihat Lira latihan.
“Sejak kapan kamu ada disini Syn?” tanya Lira bingung. 
“Tidak usah kamu pedulikan aku. Yang penting sekarang adalah kamu harus menang Lir”, ucap Synta memberi semangat. Lira terdiam. “Ayolah Lir. Jangan begini lagi aku mohon. Kamu harus percaya diri. Kamu pasti bisa.”
“Tapi bagaimana kalau aku melakukan kesalahan seperti dulu? Bagaimana kalau tiba-tiba aku kehilangan percaya diriku?” keluh Lira. “Lira Lira, aku mohon itu hanya masa lalu. Waktu itu kamu masih kecil. Tidak masalah Lira. Coba lihat sekarang. Kamu sudah jauh lebih baik semenjak kejadian itu”, hibur Synta. “Tapi Syn aku masih takut untuk tampil di depan umum lagi.”
“Kapan terakhir kamu tampil didepan umum Lir?” tanya Synta tegas.
“Saat umurku 12 tahun”, jawab Lira lirih.
“Astaga Lira itu sudah 6 tahun yang lalu. Lihat aku Lir”, Synta menarik Lira hingga mereka saling berhadapan. “Kalau kamu tidak percaya pada dirimu sendiri, percayalah padaku. Karena aku percaya padamu kalau kamu bisa memenangkan audisi ini.”
“Tapi panggung akan menilai”, tambah Lira.
“Tidak masalah bagaimana panggung akan menilaimu. Tapi satu hal yang pasti adalah kamu sudah mencoba. Mencoba untuk memenangkan dirimu sendiri. Sudah cukup kamu terpuruk dengan masa lalu. Sekarang saatnya kamu untuk melihat ke depan. Ke masa depanmu yang gemilang. Kamu mengerti?”
Mendengar perkataan Synta membuat Lira bersemangat kembali dan menemukan percaya dirinya. “Aku akan berusaha semaksimal mungkin Syn”, sahut Lira tersenyum. Mereka pun berpelukan.
Hari audisi telah tiba dan saatnya Lira untuk tampil di panggung audisi dengan ratusan penonton dan tiga juri. Panggung begitu luas sehingga Lira nampak begitu kecil di atasnya. Cahaya lampu sorot yang terang menyilaukan Lira menjadikannya tidak bisa melihat seluruh penonton. Lagu pun diputar dengan suara yang mengalun merdu membuat seluruh penonton terhanyut dalam nuansa swan lake.
Lira yang berbalut gaun balet berwarna putih dan riasan bulu angsa di rambutnya menjadikannya seorang angsa putih yang cantik di atas panggung. Tubuhnya bergerak dengan lihai mengikuti alunan melodi. Kakinya begitu ringan membawa tubuh Lira dapat bergerak kesana kemari. Lira begitu terhanyut dalam permainan baletnya. Hingga dia sampai pada klimaks swan lake. Gerakannya menjadi begitu energic, begitu memukau hingga penonton hanya bisa melongo melihatnya. “Aku pasti bisa. Pasti bisa. Sedikit lagi”, gumam Lira dalam hati meyakinkan diri.
Lira berputar sebanyak tiga putaran penuh dan menutupnya dengan gerakan anggun bak angsa putih sejati. Penonton begitu tercengang sepersekian detik sampai akhirnya mereka memberikan standing applause pada Lira. Seluruh penonton di ruang audisi bersemarak menyambut Lira. Ketiga juri juga memberikan tepuk tangan yang meriah.
“Lira kamu sungguh memukau. Aku sangat bersyukur kamu ikut di audisi kami”, kata salah seorang juri. “Selamat datang di akademi balet kami Lira”, kata juri yang lain. Lira dengan napas terengah-engah terkejut dengan apa yang didengarnya. Dia melihat betapa seluruh orang menyambutnya bahkan juri sekalipun. Dia menitikkan air mata. Dia sungguh terharu. Pada akhirnya cita-citanya menjadi penari balet profesional akan menjadi nyata. “Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih”, ucap Lira bahagia.
Synta menyambut Lira dengan pelukan hangat di belakang panggung. “Aku tahu kamu akan berhasil. Selamat Lira”, ucap Synta bahagia. “Terima kasih Synta. Aku sangat bersyukur kamu ada untukku. Kamu adalah sahabat sejatiku.” Lira memeluk Synta lebih erat.
“Kakaakk!”, seru Simon dari jauh.
Lira menoleh kearah datangnya suara itu dan menemukan Simon sedang berlari-lari kearahnya dan memeluknya. “Kakak, selamat kak. Akhirnya aku bisa menceritakan kakak ke teman-temanku”, ucap Simon bahagia. Lira menarik adiknya dan menatapnya datar. “Apa? Tidak apa-apa kan?” sahut Simon nyengir. Mereka pun tertawa bersama.
Memiliki saudara dan sahabat yang selalu ada untuknya memberikan semangat meskipun hari-hari yang dilewati begitu keras. Lira tahu bahwa hidupnya kini baru saja dimulai. Hidup yang akan mengantarkannya ke panggung dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Music Review: Jung Joon Young-Fiancee